WWW.DISSERTATION.XLIBX.INFO
FREE ELECTRONIC LIBRARY - Dissertations, online materials
 
<< HOME
CONTACTS



Pages:   || 2 |

«ABSTRACT Ruminant production is limited by the quality, the sufficiency and the continuation of forage supply. In other hand, the intensive and ...»

-- [ Page 1 ] --

POTENSI, RAGAM GULMA SEBAGAI HIJAUAN PAKAN DAN

PALATABILITASNYA DI AREAL TANAMAN UBI KAYU

Asep Indra Munawar Ali

Program Studi Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya,

Email: indranutrisi@yahoo.co.id

ABSTRACT

Ruminant production is limited by the quality, the sufficiency and the

continuation of forage supply. In other hand, the intensive and continous use of herbicides has resulted the increase of weeds resistant. The objective of the study was to find out the potency and palatability of weeds in ruminant. Result showed that variety and fresh yield production of weeds influenced by weeds management and age of cassava. 56% weeds are palatable in ruminant. The improvement of weeds palatability is needed for optimalization of ruminant as weed control.

Key Words: Ruminant, Weed, Cassava

PENDAHULUAN

Laju pertumbuhan populasi ternak ruminan cenderung lambat, dan tidak sejalan dengan makin meningkatnya permintaan daging nasional. Untuk mengejar ketinggalan pengadaan daging nasional, maka upaya meningkatkan produksi ternak ruminan nasional melalui pendekatan peningkatan populasi dan produktivitas per unit ternak harus dilakukan. Pendekatan melalui upaya peningkatan populasi sedang dilakukan melalui perbaikan mutu genetik ternak lokal dengan mempergunakan teknik inseminasi buatan (IB). Namun demikian untuk mencapai hasil yang diharapkan, yaitu tingkat produksi yang tinggi, maka perbaikan mutu genetik ternak ruminan harus diimbangi dengan perbaikan pakan dan pola pemberian pakan yang memenuhi kebutuhan ternak (Jalaludin et al., 1991).

Zarate (1996) melaporkan bahwa program pemuliaan ternak akan sangat bergantung pada aspek tatalaksana dan ketersediaan pakan yang berkelanjutan.

Ditambahkan bahwa keberhasilan perbaikan mutu genetik ternak lokal membutuhkan kondisi yang stabil dalam artian tatalaksana yang memadai, ketersediaan pakan yang berkelanjutan sepanjang tahun, dan kesehatan lingkungan.

Pola dan pemberian pakan yang belum sesuai dengan kebutuhan, merupakan faktor utama rendahnya tingkat produktivitas ternak di daerah tropis (Chen, 1990), sebagaimana yang terjadi di Indonesia. Problem utama upaya peningkatan produksi 1 ternak ruminan di daerah sumber ternak ruminan adalah sulitnya penyediaan pakan yang berkesinambungan dengan jumlah yang cukup dan kualitas yang baik. Di lain sisi pemanfaatan lahan untuk tujuan padang pengembalaan ternak makin tersisih oleh pemanfaatan lahan untuk pertanian tanaman pangan dan perkebunan. Untuk itu perlu dilakukan langkah-langkah peningkatan penyediaan pakan, melalui integrasi dan diversifikasi lahan pertanian, termasuk lahan tanaman pangan.

Salah satu lahan tanaman pangan yang berpeluang untuk dapat dimanfaatkan sebagai sumber tanaman pakan ternak, khususnya di Kawasan Indonesia Barat, adalah lahan ubi kayu. Propinsi yang memiliki tingkat produksi ubi kayu tertinggi di Indonesia adalah Provinsi Lampung (Onwoume, 2002). Dari luas lahan yang ada, semuanya merupakan usaha tani rakyat. Jarak tanam ubi kayu yang optimum memberi peluang pada gulma untuk tumbuh dengan memanfaatkan areal lorong yang ada (Leihner, 2002).

Nilai tambah yang dapat diperoleh dari usaha tani ubi kayu akan makin meningkat apabila komoditi ternak ruminan ikut dimasukkan sebagai komponen usahatani. Gulma yang tumbuh pada lahan tanaman ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan hijauan, sementara kotoran ternak dapat dikembalikan ke areal perkebunan untuk tetap menjaga bahkan meningkatkan kesuburan tanah.

Pemanfaatan lahan pertanian sebagai basis pengadaan pakan ternak dilaporkan banyak memberikan nilai tambah yang cukup tinggi. Kontribusi ternak di dalam sistem tanaman-ternak bervariasi dari 5-75%, tergantung pola integrasi yang diterapkan (Diwyanto dan Handiwirawan, 2004). Hal yang sama juga dilaporkan oleh Zainudin dan Zahari (1992), bahwa integrasi usaha peternakan di bawah tanaman perkebunan memberikan dampak yang sangat besar artinya dalam meningkatkan pendapatan petani.

Selain itu integrasi ternak ruminansia (ternak domba) dengan perkebunan karet dapat menghemat biaya pengendalian gulma sebesar 16% sampai dengan 38% (Chee & Faiz, 1990b). Awaludin & Masurni (2003) menambahkan bahwa penggembalaan sapi dengan penggunaan pagar kawat kejut bermanfaat untuk menekan gulma secara terintegrasi di perkebunan sawit.

Upaya pengendalian gulma secara langsung yang selama ini dilakukan di tingkat petani adalah dengan menggunakan herbisida atau secara mekanis, sedangkan secara tidak langsung dengan pemanfaatan ternak ruminan. Penggunaan herbisida yang intensif dan terus menerus selama 50 tahun terakhir telah menimbulkan pengembangan secara 2 evolusi kemampuan gulma untuk menjdi resisten. Sejak penggunaan awal herbisida pada tahun 1960-an, telah diidentifikasi lebih dari 150 jenis gulma yang mengembangkan biotipe resistensinya pada satu atau lebih herbisida. Hal ini mengakibatkan terjadinya peningkatan lahan yang didominasi oleh gulma yang resisten (Rao, 2000). Untuk itu, perlu dikaji potensi pemanfaatan gulma yang ada sebagai pakan hijauan ternak ruminan, sehingga potensi pengendalian gulma secara biologis oleh ternak ruminansia dapat ditingkatkan.

MATERI DAN METODE





Atas dasar pertimbangan kesesuian lahan pertanian yang diusahakan, yakni lokasi pengembangan komoditas ubi kayu dan arah pengembangan ternak ruminan di wilayah Propinsi lampung, maka lokasi pengamatan dilakukan di Dusun Bandar Harapan, Desa Terbanggi Besar, Kecamatan Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah. Pendekatan pada penelitian ini dilakukan dengan pengamatan lapang, Uji Palatabilitas gulma dan survey ke petani. Berdasarkan tingkat produksi tanaman utama (ubi kayu) dan fase kritis kompetisi gulma dengan tanaman utama (4 bulan setelah tanam), lahan pertanian ubi kayu dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu lahan ubi kayu yang berumur kurang dari 4 bulan, lahan ubi kayu yang berumur 4 – 9 bulan serta lahan bera.

Pengamatan lapang dilakukan untuk mengetahui jenis gulma yang ada, penyebaran serta tingkat produksinya. Uji palatabilitas dilakukan untuk mengetahui palatabel tidaknya gulma pada ternak sapi, sedangkan survey bertujuan untuk mengetahui palatabilitas kambing terhadap gulma/hijauan yang diberikan oleh petani selama memelihara ternak. Sebanyak 20 petani dilibatkan dalam penelitian ini.

Pengamatan lapang dilakukan pada awal musim hujan, yakni pada bulan Oktober- Nopember 2008. Pengambilan contoh gulma dilakukan dengan metode bujur sangkar (50 x 50 cm), yakni dengan teknik lemparan secara random pada areal tanaman ubi kayu dan lahan bera tersebut. Jumlah ulangan yang diamati adalah sepuluh kali.

Selanjutnya, seluruh gulma yang ada diidentifikasi untuk menentukan spesiesnya berdasarkan deskripsi spesies gulma oleh Biotrop (2008) dan USDA (2008). Data keragaman selanjutnya dianalisa untuk melihat perbedaan rataan dari setiap masingmasing jenis lahan dengan menggunakan program SPSS 12.

–  –  –

HASIL DAN PEMBAHASAN

Keadaan Umum Peternak Berdasarkan kesesuaian dan luasan lahan, maka wilayah Desa Terbanggi Besar merupakan daerah yang berpeluang dan berpotensi untuk pengembangan komoditi ubi kayu. Hal ini dikarenakan kondisi tanah dan iklim yang sesuai untuk komoditas ini disamping mudahnya pemasaran ubikayu ke pabrik pengolahan yang ada. Selain ubi kayu, tanaman lain yang dibudidayakan adalah jagung dan padi gogo yang biasa ditanam di awal musim penghujan.

Petani yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah petani transmigran dari Jawa Barat. Kepemilikan lahan adalah 1 sampai dengan 2,5 ha dengan rataan 1,5 ha per kk sedangkan kepemilikan ternak kambing berkisar antara 1 sampai dengan 16 ekor.

Sebanyak 93% petani menanam ubi kayu varietas kasesart sedangkan 7% sisanya menanam ubi kayu varietas Aldira. Sebanyak 35% petani menanam jagung di musim tanam sebelumnya. Pemupukan yang dilakukan adalah Urea:SP36:KCl adalah 50:50:50 kg.ha-1. Selain itu pemupukan kotoran ternak dilakukan dengan menyesuaikan ketersediaan pupuk kandang yang ada.

Hanya 4% petani yang menggembalakan ternaknya di siang hari sedangkan 96% mengandangkan ternaknya sepanjang waktu. Hal ini menunjukan tingginya intensitas pemakaian lahan untuk pertanian. Semua petani memberi pakan ternaknya dengan “Cut and Carry System”. Hijauan pakan yang biasa digunakan adalah daun tanaman ubi kayu yang dipanen. Pemberian daun ubi kayu sebagai hijauan pakan dikarenakan ketersediaan yang melimpah pada saat panen. Akan tetapi, pada saat tidak ada petani yang panen, pemberian pakan biasa dilakukan dengan gulma/tanaman pakan ternak yang ada di lahan pertanian. Hal inilah yang mendorong timbulnya pengetahuan petani akan jenis gulma yang disukai atau tidak disukai ternak kambingnya.

4 Ragam dan Penyebaran Gulma Hasil pengamatan lapang menunjukkan bahwa penyebaran spesies gulma yang tumbuh di lahan pertanian pada lahan bera, lahan dengan tanaman berumur 4 bulan dan lahan dengan tanaman berumur 4- 9 bulan serta produksi hijauannya adalah berbeda nyata (P0.05). Pada lahan tanaman ubi kayu terdapat ragam jenis sebanyak dua puluh tiga spesies sedangkan pada lahan bera terdapat dua puluh enam spesies yang dapat dikelompokkan ke dalam rumput (Poaceae) sebanyak enam spesies, legum empat spesies, dan lainnya enam belas spesies (Tabel 1).

Ragam vegetasi yang dapat beradaptasi di ketiga status produksi tanaman ubi kayu menunjukkan perbedaan yang spesifik. Hal ini terlihat dari keanekaragaman maupun penyebaran vegetasi gulma yang dapat tumbuh. Walaupun dari ketiga status produksi tanaman terdapat kesamaan vegetasi gulma yang dapat tumbuh, namun penyebaran vegetasi gulma tersebut menunjukkan perbedaan. Perbedaan penyebaran dan jumlah vegetasi gulma tersebut dapat disebabkan oleh perbedaan tingkat naungan yang sejalan dengan umur tanaman dan tingkat produksi tanaman ubi kayu serta palatabel tidaknya gulma yang ada.

Gulma rumput lebih palatabel oleh ternak. Sehingga penyebaran dan produksi gulma jenis rumput turun seiring dengan pertumbuhan tanaman ubi kayu. Di sisi lain gulma yang tidak palatabel semakin berkembang yakni terjadinya peningkatan penyebaran dan produksi. Hal ini diduga karena adanya penyabitan gulma rumput sebagai hijauan tanaman pakan sedangkan gulma yang tidak palatabel dibiarkan oleh petani mengakibatkan terbatasnya perkembangan gulma

–  –  –

6 rumput sedangkan gulma yang tidak palatabel terus berkembang. Selain itu, semakin terbatasnya cahaya matahari yang diterima karena semakin lebarnya penutupan oleh kanopi tanaman ubi kayu. mengakibatkan semakin berkurangnya pertumbuhan gulma rumput.

Produksi rumput yang semakin menurun dengan meningkatnya gulma yang tidak palatabel ini sejalan dengan penelitian Batubara (2004), Chee dan Faiz (1990a) serta Chee dan Faiz (1990b) di lahan perkebunan kelapa sawit dan karet dengan sistem penggembalaan. Ternak yang digembalakan akan memilih gulma (tanaman pakan) yang disenangi (palatabel) dan membiarkan gulma yang tidak palatabel sehingga gulma yang tidak palatabel tersebut akan terus berkembang karena tidak adanya gangguan defoliasi oleh ternak. Hal ini juga terjadi pada penelitian ini walaupun bukan dengan sistem penggembalaan melainkan defoliasi dengan penyabitan oleh petani.

Palatabilitas Ternak terhadap Gulma Dalam pola integrasi ternak ruminan dengan tanaman ubi kayu ini, petani dengan pengetahuan jenis gulma/tanaman pakan serta kemampuan manajemennya berperan sangat penting dalam memilih gulma (tanaman pakan) yang palatabel untuk ternaknya. Sejalan dengan pengalaman bertani dan beternak, petani akan selalu berusaha memenuhi kebutuhan pakan ternaknya dengan menyabit dan memberikan tanaman pakan yang disukai oleh ternak. Di sisi lain, gulma yang tidak disukai oleh ternak tidak akan disabit oleh petani karena tidak akan dikonsumsi oleh ternak. Oleh karena itu, sejalan dengan waktu, gulma yang tidak palatabel akan terus tumbuh dan berkembang sehingga keragaman dan produksinya akan terus meningkat.

Herbisida digunakan untuk memberantas gulma yang terus berkembang karena tidak dilakukannya defoliasi oleh petani. Pemberantasan secara kimiawi ini ditempuh karena dipandang lebih ekonomis dibandingkan dengan pemberantasan secara mekanis.

Hal ini akan berakibat semakin tingginya resistensi gulma tertentu tehadap jenis herbisida. Asystasia gangetica, Borreria latifolia dan Commelina difusa mengalami peningkatan resistensi tehadap herbisida glifosat sehingga terjadi peningkatan penyebaran dan produksi di lahan pertanian (Rao, 2000).

–  –  –

Palatabilitas ternak sapi dan kambing terhadap gulma yang diberikan ditunjukan pada tabel 2. Selain dari gulma yang ada pada petakan, semua jenis gulma yang ada di lahan tanaman ubi kayu diujikan langsung kepada ternak sapi untuk melihat tingkat palatabilitasnya. Selain itu, jenis gulma tersebut ditanyakan kepada petani peternak, apakah gulma tersebut dikonsumsi oleh ternak kambingnya. Hail penelitian menunjukan 8 bahwa palatabilitas kedua jenis ternak ruminansia ini adalah sama. Dari 36 gulma, 19 gulma (56%) palatabel pada ternak sapi dan 19 gulma (53%) palatabel pada ternak kambing.

Semua jenis rumput palatabel untuk ternak ruminansia, baik ternak sapi maupun ternak kambing. Hal ini sesuai dengan Manetje dan Jones (1992) bahwa semua jenis graminae tersebut palatabel untuk ternak ruminansia. Sedangkan Awaludin dan Masurni (2003) menambahkan bahwa gulma Asystasia gangetica dan Paspalum conyugatum, di lahan perkebunan, palatabel untuk ternak sapi sedangkan Clidemia hirta tidak palatabel.



Pages:   || 2 |


Similar works:

«Quantifying Sensitivity of Local Site Response Models to Statistical Variations in Soil Properties José E. Andrade1 and Ronaldo I. Borja2 Abstract: We perform a combined stochastic-deterministic analysis of local site response using two computer codes, an equivalent linear analysis program SHAKE and a fully nonlinear finite element code SPECTRA. Our goal is to compare the relative sensitivity of the two codes to statistical variations in soil properties. For the case studies, we re-analyze two...»

«Journal of Forensic & Investigative Accounting Vol. 7, Issue 2, July December, 2015 Asset Misappropriation Schemes: Short Cases for Use in the Classroom Constance M. Lehmann* As educators of future fraud examiners and auditors, we are challenged to provide innovative teaching approaches with realistic illustrations of typical fraudulent activities detected by fraud and forensic professionals/auditors during an audit. To provide the most realistic conditions, these illustrations should be...»

«MINUTES OF THE GENERAL COMMITTEE MEETING HELD AT COUNTY HALL, MORPETH ON TUESDAY, 25 OCTOBER 2011 AT 2.00 PM MEMBERS PRESENT: Messrs. G.R. Arckless (Chairman), Mrs. J. Fearon, Ms. C. Carey and J. Brooker, Messrs. D. Ledger, A.H. Murray, R.J.D. Watkin for part of meeting, D. Herriott, G.W. O’Connell for part of meeting, J. Stephenson, L. Weller, T. Brechany, M.D. Bould, W. Miller, N. Polunin, S. Ritchie, S. Douglas and M. H. Hardy (Chief Executive). Also in attendance having been invited: Dr....»

«Sept 9th 2016 to Oct 10th 2017 Jupiter in Libra Insights & Horoscopes Maggie Kerr A.A.T. www.universalastrology.com.au https://www.facebook.com/UniversalAstrology https://twitter.com/universalmaggie As Jupiter enters Libra in September for his once in 12-year visit, the global scene has rarely been in such a state of ‘high tension’! Brexit has revealed a new level of anti-establishment sentiment fuelling the revolutionary urge for change, the force underpinning the 2010’s, as the USA...»

«Merced County Regional Bicycle Transportation Plan Prepared by the Merced County Association of Governments www.mcagov.org Merced County Adoption: October 21, 2008 MCAG Certification of Completeness: October 29, 2008 Prepared with the financial assistance of the California Department of Transportation, the Federal Highway Administration, and member agencies of the Merced County Association of Governments TABLE OF CONTENTS INTRODUCTION PURPOSE INITIAL PLAN DEVELOPMENT POLICY ELEMENT GOALS:...»

«Advent Edition – December 2014 Advent Greetings from the Senior Warden Happy New Year! Advent is the beginning of a new liturgical year in the Episcopal Church and encompasses the span of time from the fourth Sunday before Christmas until the Nativity of Our Lord is celebrated. Advent is a preparatory season of the coming of the Lord Jesus Christ. Also, this Advent Season, the St. Alban’s Vestry asks for your prayers in acquiring a Priest-in-Charge. Preparatory meetings have been started...»

«Thanksgiving Lesson for Youth Sunday School Center www.SundaySchoolCenter.com Being Thankful Teacher Pep Talk: Teaching our youth to be thankful is something we do with varied success! And while we often talk about things to be thankful for, we don’t always talk about who we should be thankful to. From its roots in colonial days, our traditional Thanksgiving had to do with being thankful to God for what He has done for us, and for the provisions He has given to us. In this lesson you get to...»

«FRANCHISE DISCLOSURE DOCUMENT HILTON FRANCHISE HOLDING LLC A Delaware Limited Liability Company 7930 Jones Branch Drive, Suite 1100 McLean, Virginia 22102 703-883-1000 www.hiltonworldwide.com You will operate a Hilton hotel under a Franchise Agreement with us. The total investment necessary to begin operation of a typical 300-room Hilton hotel, excluding real property, is $55,999,500 to $97,117,875, including up to $592,000 that must be paid to us or our affiliates. This disclosure document...»

«XR Flight Operations Manual Version 2.7 Publication Date: 20-Aug-2016 Vessel Versions: XR5 1.10 / XR1 1.12 / XR2 1.7 Copyright 2006-2016 Douglas Beachy. All Rights Reserved. This software is freeware and may not be sold. Web: http://www.alteaaerospace.com Email: mailto:dougb@alteaaerospace.com Orbiter Forum: dbeachy1 (http://orbiter-forum.com) XR Flight Operations Manual Version 2.7 1 Copyright 2006-2016 Douglas Beachy. All Rights Reserved. Table of Contents DG-XR1 Development Team XR5 Vanguard...»

«Lien vers la présentation PowerPoint Érosion côtière et risques littoraux face aux changements climatiques ; essai d’analyses comparatives des indicateurs de vulnérabilité à Libreville (Gabon) et Pointe-Noire (Congo). Magloir-Désiré MOUNGANGA Centre National de la Recherche Scientifique et Technologique (CENAREST) Laboratoire de Gestion des Risques et des Espaces Humides (GREH) B.P. 10 961 Libreville (Gabon) Tél : (241) 07 52 69 73 E-mail : magdesir@yahoo.fr Magloir-Désiré...»

«“YOU IDIOTS!” HOUSE, M.D. AND THE CONTINUED VITALITY OF THE BYRONIC HERO by CATHERINE A. RICCIO (Under the Direction of Linda Brooks) ABSTRACT The Byronic Hero did not die out with the appearance of Byron’s Don Juan. On the contrary, through the use of humor in the narrator’s commentary, a new Byronic Hero emerged, one capable of uncovering the uncomfortable truths behind an artificial society. The inclusion of humor strengthened this character type’s resiliency and made him more...»

«Prepared by CABI and EPPO for the EU under Contract 90/399003 Data Sheets on Quarantine Pests Plasmopara halstedii IDENTITY Name: Plasmopara halstedii (Farlow) Berlese & de Toni Synonyms: Plasmopara helianthi Novotel'nova Taxonomic position: Fungi: Oomycetes: Peronosporales Common names: Downy mildew of sunflower (English) Mildiou du tournesol (French) Mildiú del girasol (Spanish) Lozhnaya muchnistaya rosa podsolnechnika (Russian) Notes on taxonomy and nomenclature: The fungus causing downy...»





 
<<  HOME   |    CONTACTS
2016 www.dissertation.xlibx.info - Dissertations, online materials

Materials of this site are available for review, all rights belong to their respective owners.
If you do not agree with the fact that your material is placed on this site, please, email us, we will within 1-2 business days delete him.